‘Khenambai Umbai’ di Festival Danau Sentani, Papua

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Danau Sentani adalah danau terluas di Papua dengan luas 9.630 ha dan kedalaman yang bervariasi hingga 75 meter. Saking luasnya, Danau Sentani menjadi rumah bagi 24 kampung serta 18 pulau yang dilingkupinya.

Keindahan danau dengan air tenang ini memang merupakan obyek wisata utama yang ada di Kabupaten Jayapura, Papua.

Untuk lebih mengemas obyek wisata ini dengan menarik, Pemkab Jayapura sejak tahun 2007 menggelar Festival Danau Sentani.

Festival yang berlangsung di bulan Juni setiap tahunnya ini seakan ingin mengingatkan wisatawan bahwa Kabupaten Jayapura bukan hanya tempat transit semata, tapi juga menjadi nilai tambah bahwa daerah ini layak dieksplorasi dan mampu menjadi etalase Papua.

Tak hanya itu, Festival Danau Sentani juga adalah upaya masyarakat untuk terus melestarikan nilai-nilai budaya dan leluhur. Tentu saja tampilan budaya lokal yang masih asli inilah yang membuat banyak para wisatawan rela datang jauh-jauh untuk menyaksikan event tahunan ini.

Untuk mencapai Danau Sentani, traveller bisa memilih penerbangan dari Jakarta, Surabaya, Bali, Makassar, atau kota-kota besar lainnya ke kota Jayapura.

Untuk penerbangan dari Jakarta langsung menuju Jayapura biasanya dibutuhkan waktu sekitar 5 jam. Tapi dibutuhkan sekitar 6,5 jam jika penerbangannya harus transit terlebih dahulu di salah satu kota lain, biasanya di Makassar atau Bali.

Ada dua pilihan waktu penerbangan dari Jakarta ke Jayapura, yakni malam hari sekitar pukul 22.00 hingga 23.00 WIT atau di pagi hari pada sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Setelah tiba di Kota Jayapura, perjalanan dilanjutkan dengan bus kecil ke barat Danau Sentani yang ditempuh sekitar setengah jam.

 

Tari Isosolo

Salah satu acara yang paling dinantikan di Festival Danau Sentani adalah penampilan Tari Isosolo. Tak seperti pertunjukan tari biasanya, Tari Isosolo menjadikan Danau Sentani sebagai panggung mereka. Maklum, dalam bahasa setempat, kata “sentani” berarti “di sini kami tinggal dengan damai”.

Tarian pun ditampilkan di atas perahu, dan dimulai dari kampung masing-masing peserta hingga menuju ke venue festival.

Untuk mendapatkan spot terbaik, saya sengaja duduk di dermaga kayu di Pantai Khalkote. Panas terik matahari tak lagi saya risaukan. Tak lama kemudian, saya mendengar tabuhan tifa (alat musik khas Papua) dan nyanyian khas Papua dari kejauhan.

Tampak dua perahu kayu yang diikatkan menjadi satu mulai muncul perlahan-lahan. Dalam perahu tersebut, ada belasan orang berpakaian tradisional yang sedang menari bersuka cita. Di depan mereka, beberapa pria yang memegang panah dan tifa juga ikut serta bergoyang mengikuti irama.

Tak lama kemudian, muncul perahu lain dari kampung berikutnya. Mereka pun tak kalah heboh dengan pakaian khas rumbai-rumbai serta tubuh yang dicat dengan motif khas Papua. Begitu seterusnya hingga danau yang tadi sepi tiba-tiba menjadi semarak.

Setelah tiba di Pantai Khalkote, para rombongan langsung mengantarkan berbagai macam hasil panen, seperti pisang, pinang, buah dan lain-lainnya, kepada ketua adat dan para pejabat yang telah menunggu di panggung. Setelah itu, mereka berbaur dengan masyarakat.

Tak ayal, mereka pun langsung menjadi “selebriti” bagi para turis yang telah lama menanti. Saya pun tak mau ketinggalan untuk meminta izin berfoto dengan perahu dan para penari Isosolo.

Selain Tari Isosolo, Festival Danau Sentani juga menyajikan beragam pertunjukan lain. Puluhan booth lokal hadir di lokasi untuk menawarkan berbagai cinderamata khas, seperti noken, kerajinan kulit kayu, dan lain-lain.

Tapi ada booth yang pastinya tak boleh dilewatkan, yakni booth kuliner. Dan bagi yang ingin mencoba kuliner ekstrem, disediakan pula ulat sagu. Lantaran nyali yang kurang besar, sepertinya cukuplah saya mencoba makanan tradisional lainnya seperti Papeda yang juga berasal dari sagu.

Uniknya, Papeda sudah bagaikan nasi bagi orang Papua. Dan menu yang cocok bagi Papeda adalah ikan kuah kuning yang akan membuat rasa panganan ini semakin nikmat.

 

Malam Penutupan Festival

“Khenambai Umbai” sahut bapak Bupati Kabupaten Jayapura, Mathius Awoitauw, saat menutup perhelatan Festival Danau Sentani 2018. Tak terasa sudah lima hari saya berada di Jayapura dan menyaksikan gegap gempita festival yang telah berlangsung dari tahun 2007 ini. Waktu yang saya kira panjang untuk menyaksikan kearifan lokal papua ternyata terasa sangat singkat.

Memang festival yang diadakan di Pantai Khalkote, Danau Sentani, ini sangat ramai tak seperti hari-hari biasanya. Berbagai turis asing dan lokal melebur menjadi satu dalam kemeriahan festival terbesar di Jayapura ini, sesuai dengan makna “Khenambai Umbai” yang berarti “Satu Hati, Satu Jiwa untuk Indonesia”.

Pada malam penutupan, yang merupakan hari terpadat di festival ini, ditampilkan berbagai pertunjukan seni seperti pementasan tari kolosal yang dibawakan oleh ratusan siswa-siswi Se-Jayapura. Saya sampai terhenyak melihat panggung yang dihiasi dengan video mapping pertama di Papua serta make-up para penari yang bercirikan glow in the dark.

Pun saat derai tepuk tangan belum berhenti, panggung langsung diambil alih oleh kehadiran band Papua Original yang mengajak para penonton berjoget dan bernyanyi bersama di depan panggung.

Sementara itu, di samping panggung, lampion-lampion mulai dihidupkan dan diterbangkan ke atas sehingga menjadikan langit Papua yang gelap gulita tampak bercahaya pada malam itu. Layaknya makna dari logo Festival Danau Sentani, yakni pembawa berita baik dalam kehidupan masyarakat, begitulah mungkin makna lampion yang tersirat.

Saya yang melihat lampion berpendar itu hanya bisa berdoa bahwa kabar tentang keindahan dan keramahtamahan Papua akan segera tersebar ke seluruh Nusantara dan penjuru dunia.

Terima kasih Festival Danau Sentani, sampai jumpa lagi di tahun 2019!

Photo by Tim Ayo Jalan-Jalan & Amirullah Mappangeran S

Share.

Leave A Reply