Indonesia Bakal Memiliki Pesawat Amfibi Buatan Anak Bangsa

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

air-travel.id – Ada berita bagus bagi industri penerbangan dan pariwisata bahari di Indonesia. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) tengah mengembangkan pesawat N219 versi amfibi yang dapat lepas landas serta mendarat di atas permukaan air dan daratan. 

Dengan didukung penuh oleh BAPPENAS, pihak LAPAN menyatakan pengembangan pesawat amfibi ini diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp 250 miliar sampai Rp 300 miliar. Biaya tersebut nantinya akan digunakan untuk proses pengembangan pesawat, termasuk simulasi penerbangan dan pelatihan pilot yang akan menerbangan pesawat. 

Rencananya, keberadaan pesawat amfibi ini untuk memenuhi kebutuhan nasional, baik untuk daerah-daerah terluar yang merupakan kepulauan-kepulauan, daerah-daerah yang memiliki potensi pariwisata bahari, maupun di kawasan yang memiliki sungai dan danau tapi relatif sulit dibangunkan lapangan terbang. 

Budi Sampurno selaku Project Manager Pesawat N219 Amfibi, menjelaskan bahwa LAPAN bersama PT Dirgantara Indonesia selama satu tahun belakangan ini telah melakukan feasibility study, mulai dari survey feasibility study pengoperasian pesawat amfibi, feasibility study marketing, hingga feasibility study engineering.

LAPAN, kata Budi, juga menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Balai Teknologi Hidrodinamika (BTH), dan Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika dan Aeroakustika dengan (BBTA3) dalam melakukan pengujian terhadap model pesawat amfibi ini. Adapun pengujian yang dilakukan yakni berupa wind tunnel test dan hydrodynimic test.

Menurut Budi, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pesawat amfibi N219. “Yakni teknologi float-nya, konfigurasi pesawatnya, dan  improvement-nya. Untuk dua hal yang pertama tadi, kita masih perlu belajar banyak,” tuturnya dalam acara press conference seputar hasil feasibility study pengembangan pesawat N219 amphibi di Kantor Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN Rumpin, Bogor, beberapa waktu lalu.

Budi juga menjelaskan bahwa proyek Pengembangan pesawat N219 versi amfibi ini membutuhkan waktu yang cukup lama, terutama seputar teknologi float yang akan dijadikan landing gear pesawat. Menurut Budi, teknologi float adalah hal yang masih baru di Indonesia sehingga harus dipelajari dengan matang terlebih dulu. Ia pun memperkirakan proses pengembangan pesawat sejak tahap dasar hingga menuju tahap tes terbang butuh waktu sekitar empat tahun.

“Pengembangan float sendiri sudah berjalan dua tahun. Satu tahun untuk desain konfigurasi dan satu tahun untuk tes. Karena ini yang pertama kali, maka banyak hal yang perlu dipersiapkan. Pertama untuk training pilot harus ada, kedua flight simulator, dan hal lain-lainnya,” ungkap Budi.

Sementara itu, Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Gunawan Setyo Prabowo, melihat ada potensi besar dalam proses pengembangan pesawat N219 versi amfibi, khususnya dalam pengembangan teknologi floating.Ia pun berharap float development ini benar-benar berjalan dengan lancar dan nantinya bisa diterapkan ke pesawat-pesawat lain yang berukuran lebih kecil daripada N219. 

Selain itu, Gunawan juga menyatakan bahwa proses pengembangan float ini turut menyertakan banyak pihak. Ia juga berharap bisa menarik pelaku industri untuk bergabung.

“Seperti yang dilakukan di Amerika. Kami akan menggandeng perusahaan-perusahaan yang sudah berpengalaman. Nanti pun proyek ini akan dipisah menjadi dua, yakni float development dan float development dedicated,” papar Gunawan. (bdn) 

Share.

Leave A Reply