Mengingat Pertama Kali Naik Batik

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Dulu, pertama kali kami “berurusan” dengan Batik Air adalah saat maskapai full service ini resmi beroperasi di udara Indonesia pada bulan Mei 2013. Saat itu kami memuat wawancara dengan Direktur Umum Lion Group, Edward Sirait, tentang rencana besar Lion Group menyediakan penerbangan dengan layanan penuh bagi pelanggan setianya.

Dua tahun kemudian Batik Air tercatat sudah mampu mengangkut lebih dari 3 juta penumpang, sudah menambah berbagai rute baru, dan tentu saja juga sudah menambah jumlah armada pesawatnya. Maskapai yang memiliki dua hub, di Bandara Soekarno Hatta dan Halim Perdanakusuma Jakarta, ini juga membuka beberapa rute internasional, dimulai dengan rute Soekarno Hatta Jakarta ke Changi, Singapura, pada 14 Agustus 2015. Jumlah armada pesawat Batik Air pada akhir tahun itu berjumlah 33 pesawat dengan jumlah rute sebanyak 25 destinasi, dan tingkat keterisian (load factor) Batik Air sudah mencapai 90%. Pada tahun 2016 Batik Air menambah 13 pesawat lagi. Rute tambah lagi. Tahun 2018? Entahlah kami belum dapat data pastinya. Banyak, pastinya.

Sepak terjang Batik Air memang tampak signifikan. Namun buat kami saat itu, masalahnya cuma satu dan agak cukup memalukan, yaitu tim kami belum pernah naik Batik Air. Kami belum pernah merasakan bagaimana nyamannya naik armada milik Lion Group dengan layanan penuh, yang menyajikan layanan makanan di dalam pesawat dan juga menyediakan In-Flight Entertainment melalui personal tv yang terletak di setiap kursi. What a shame!

Kalua sekarang sih sudah tak terhitung berapa puluh kali bahkan berapa ratus kali kami naik Batik Air. Untuk memperingati pesatnya perkembangan maskapai ini, ayo kita bernostalgia mengingat pengalaman kami waktu pertama kali terbang dengan Batik Air, rute Soekarno Hatta Jakarta – Kualanamu Medan tahun 2015 lalu.

LAYANAN PENUH

Kami memilih terbang ke Medan melalui Bandara Soekarno Hatta, walaupun Batik Air juga menyediakan penerbangan dari Bandara Halim Perdanakusuma. Alasannya karena kami ingin merasakan suasana baru di Terminal 1 C, yang selama ini identik untuk melayani penerbangan berbiaya rendah dan medium service.

Begitu masuk ke dalam terminal kita segera merasakan beberapa perbedaan . Tampak berbagai gerai toko dan restoran yang tertata jauh lebih rapi. Namun yang paling menonjol perbedaannya adalah saat kita berjalan memasuki lorong ruang tunggu keberangkatan C 7, di mana seluruh penumpang Batik Air dimanjakan jalur khusus yang dilengkapi pendingin udara dan dihiasi berbagai ornamen ukiran, lukisan dan pajangan bernuansa etnik. Di ujung lorong kita akan disambut petugas yang akan mengarahkan penumpang kelas bisnis ke ruang tunggu khusus.  Pihak Lion Group konon merogoh kocek hingga 3 milyar rupiah untuk mempercantik terminal ini demi kenyamanan penumpang Batik Air dan sekaligus untuk meningkatkan citra Terminal 1 secara keseluruhan menjadi lebih menarik.

Ketepatan terbang Batik Air hingga saat ini memang cukup tinggi, bahkan jika dibanding maskapai lainnya. Kami mengalami sendiri saat boarding call sudah dikumandangkan  45 menit sebelum pesawat dijadwalkan lepas landas. Karena kami masuk pesawat duluan, banyak waktu untuk memperhatikan berbagai fasilitas di pesawat Boeing 737-900ER yang akan menerbangkan kami ke Medan. Sebagai catatan, selain Boeing 737, Batik Air juga mengoperasikan armada Airbus 320.

Tidak usah ditanya bagaimana bagusnya kondisi pesawat ini. Namanya juga pesawat baru. Semua masih tampak bersih, berpadu dengan warna coklat lembut dengan aksen merah di beberapa sudut. Awak kabin yang ramah menyapa di depan, tengah, hingga belakang pesawat. Tampaknya awak kabin yang bertugas di Batik Air lebih senior daripada yang bertugas di Lion Air. Mungkin untuk  memastikan pelayanan yang lebih baik bagi penumpang. Di bagian depan pesawat terdapat 12 kursi kelas bisnis, sedangkan di bagian tengah hingga belakang terhampar 168 kursi kelas ekonomi.

Begitu duduk, di hadapan kita langsung terpampang sebuah monitor tv. Melalui layar itulah penumpang bisa memilih  sajian In-Flight Entertainment yang cukup beragam hanya dengan menyentuh layar kacanya. Tersedia berbagai film Hollywood, Korea, India, tayangan televisi dari seluruh dunia, komedi, maupun info wisata di Indonesia. Melalui layar itu pula, disajikan video cara penggunaan pelampung dan masker oksigen jika terjadi kondisi darurat.

Tak lama kemudian, pesawat sudah lepas landas dengan mulus menuju ketinggian 36 ribu kaki. Para penumpang mulai “sibuk” dengan berbagai kegiatan masing-masing. Ada yang menonton TV, main games, mengamati laju pesawat lewat peta real-time di monitor, bahkan ada juga yang langsung tidur.  Pramugari menyajikan makanan dan minuman dengan sigap dan ramah. Kualitas makanannya tentu saja sama dengan makanan yang disajikan di maskapai dengan layanan penuh lainnya. Jika Anda masih haus, pramugari dengan ramah menambahkan minuman yang Anda inginkan. Layanan penuh, mantap sekali.

Oh ya, ada satu hal menarik. Walau layar monitor tersedia di seluruh kursi penumpang, tapi Batik Air tidak menyediakan headphones untuk menikmati audio-nya. Kita harus membelinya dari pramugari dengan harga Rp 25.000,- dan tentu saja boleh dibawa pulang karena itu milik Anda. Tapi jika Anda membawa ear-phones yang biasa Anda gunakan untuk Ipod atau telepon genggam, benda itu bisa dipakai di monitor tv itu. Jadi tidak perlu beli lagi.

Perjalanan ke Medan memakan waktu 2 jam lebih sedikit. Pesawat yang kami tumpangi mendarat mulus di Bandara Kualanamu. On time.  Kami punya waktu satu malam berkeliling kota Medan sebelum kembali ke Jakarta menumpang Batik Air esok harinya. Pengalaman terbang yang menyenangkan. Saya sendiri menyimpan baik-baik headphones yang baru dibeli di dalam pesawat tadi. Lumayan, daripada harus beli lagi.

Begitulah pengalaman pertama kami. Jika Anda juga punya pengalaman tersendiri dengan maskapai tertentu, silakan sharing ceritanya melalui bilik komentar di bawah ini. (ikt)

Share.

Leave A Reply