Ini Dia Pesawat Amfibi Terbesar Sejagat!

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Seiring bergulirnya zaman, bentuk serta teknologi pesawat terbang terus mengalami perkembangan, termasuk pada pesawat amfibi. Sejak dirakit pertama kali di tahun 1910 oleh inventor asal Perancis bernama Henri Fabre, lalu disempurnakan lagi oleh Glenn Curtiss asal Amerika Serikat di tahun 1919, hingga kini pesawat jenis amfibi terus berevolusi.

Baru-baru ini Aviation Industry Corporation of China (AVIC) mengumumkan telah berhasil memproduksi sebuah pesawat amfibi terbesar di dunia bernama AG600. Disebut terbesar di dunia karena pesawat yang bisa mendarat di darat dan permukaan air ini berukuran hampir sama dengan pesawat komersial Boeing 737.

Butuh waktu delapan tahun bagi AVIC untuk mendapatkan sosok AG600 sesuai dengan bentuk dan performanya sekarang. Dan pada bulan Desember 2017, pesawat ini pun telah sukses melakukan penerbangan perdananya.

Dijululi “Kunlong” yang artinya “ikan besar”. (Xinhuanet)

Kesuksesan penerbangan perdana pesawat yang dijuluki “Kunlong” ini dipandang sebagai lompatan besar bagi industri pesawat terbang di Negeri Tirai Bambu. Julukan Kunlong berasal dari kata ‘kun’ yang artinya ‘ikan besar’ dan ‘long’ yang berarti ‘naga’, sebagai bentuk harapan tertinggi China.

Didukung empat mesin turboprop, AG600 memiliki jangkauan terbang hingga sejauh 4.500 km dan sanggup melayang di ketinggian maksimal 10.500 meter.
Lebar bentang sayapnya 38,8 meter dan panjang badannya 36,9 meter. Burung besi ini mampu melesat dengan kecepatan maksimal 570 km per jam dan sanggup lepas landas dengan bobot maksimum 53,5 ton.

Hebatnya lagi, pesawat ini mampu terbang nonstop 12 jam tanpa mengisi ulang bahan bakar. Dapur pacu AG600 disokong mesin turbopropeller 4 × WJ-6 yang tiap-tiap mesinnya mampu menghasilkan tenaga sebesar 5.103 HP. Bilah baling-balingnya pun sudah mengadopsi jenis six bladed constant speed propellers.

Sejak awal, AG600 dirancang untuk tugas-tugas penyelamatan di laut dan membantu pemadaman kebakaran hutan. Tak mengherankan bila pesawat amfibi ini juga dirancang untuk dapat lepas landas dan mendarat di permukaan gelombang setinggi 2 meter.

Untuk tugas pemadaman kebakaran, AG600 bisa mengisi air sebanyak 12 ton dalam waktu 20 detik sehingga mampu membawa 370 ton air dalam sekali terbang. Saat take-off dan landing di atas air, pesawat amfibi made-in China ini memerlukan area dengan panjang minimal 1.500 meter, lebar 200 meter, dan kedalaman air 2,5 meter.
Selain itu, AG600 juga dipersiapkan dalam versi SAR, intai maritim, bahkan hingga versi AKS (anti kapal selam). Untuk mendukung misi SAR, pihak pabrikan menyebut AG600 dapat mengevakuasi 50 orang di laut dalam satu kali terbang.

Tak pelak, kemunculan AG600 membuat posisi China bisa disetarakan dengan negara-negara produsen pesawat di dunia seperti Amerika Serikat (AS) dengan Boeing-nya atau Eropa dengan Airbus-nya.

Pengaman Laut Cina Selatan?

Program pembuatan dan pengembangan AG600 yang disebut anti karat ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2009 dengan melibatkan 70 perusahaan manufaktur komponen pesawat dan peneliti dari 150 institusi yang berasal dari 20 provinsi dan kota di China.

Ukuran AG600 hampir sama dengan Boeing 737. (AFP)

Konon, media-media di Tiongkok sempat ramai memberitakan bahwa AG600 sengaja dibuat oleh AVIC sebagai bagian dari upaya modernisasi militer di Laut Cina Selatan di tengah konflik sengketa teritorial dengan Vietnam, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Brunei Darussalam.

Tapi pihak otoritas penerbangan China menyatakan bahwa AG600 hingga saat ini masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Menurut Chief Designer AG600 dari AVIC, Huang Lingcai, pihaknya tengah berusaha keras mendapatkan sertifikasi kelaikan udara dari otoritas penerbangan sipil pada tahun 2021 nanti. Dan bila segalanya berjalan lancar, rencananya pesawat ini akan dikirim kepada para pemesannya di tahun 2022.

Hingga saat ini sudah ada 17 pesanan AG600 yang datang dari pemerintah maupun perusahaan swasta di China. Bahkan beberapa negara lain juga telah menyatakan ketertarikannya terhadap seaplane buatan Negeri Tirai Bambu ini, di antaranya adalah Malaysia dan Selandia Baru. (bdn)

Share.

Leave A Reply